Perjalanan ketika menuntut ilmu

4 min read

 

Assalamualaikum wr, wr, ini adalah sebuah kisah perjalanan  seorang santri. Yang ingin mencapai cita-citanya, dan ingin mewujudkan impian orang tuanya.

Petualangan tersebut di mulai dari masuknya  ke salah satu pondok pesantren yang ada di madura.  biar gac begitu penasaran mari kita baca bersama-sama kisahnya.

pemberangkatan

Sarif itu adalah panggilan saya. seorang pemuda yang lahir dari keluarga yang sederhana di sebuah desa kecil tempatnya di madura.

Yang mana terkenal degan budaya pesantrennya yang sudah berakar  sejak lama.

Pagi ini adalah langkah awalku  menuju impianku, yang selama ini menjadi motivasi  dalam setiap langkahku. Menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Lalu kembali untuk megubah tanah kelahiranku menjadi lebih baik lagi.

Dan langkah itu di mulai masuk ke salah satu Pondok Pesantren yang berada di pusat Kota. Nurul Ulum nama nya.

Sebuah Pondok kecil yang di dirikan oleh seorang Kyai  yang mashur dengan kealimannya.

Hampir semua bidang ilmu agama yang di kuasi,

Dengan membaca bismillah saya masuk ke Mobil yang membawa saya ke pondok itu. Sepintas terlihat oleh saya wajah tegar kedua orang tua saya.

Yang tersenyum melihat bocah nakalnya kini sudah mulai dewasa.

Dan sebentar lagi akan memulai petualangan barunya. “ Ingat jika nanti kamu butuh apa-apa di sana bilang saja sama Yahya dan ustad Wiwit” mereka insyaallah membantunya.

Saya hanya menganggukkan kepala setelah mendengar perkataan ayah. “Dan jangan lupa belajar yang rajin biar Sarif bisa membuat ayah dan ibu bangga ketika melihat kesuksesan mu nanti.

Ibu menyambung perkataan ayah sambil tersenyum. Senyum pertama kali yang saya lihat, saat tangis memecahkan ketegangan keluarga besar saya,  saat menanti kesuksesan saya nanti.

Hari pertama di pesantren

sumber =frerimages.com

Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir setelah satu jam lebih berada di dalam mobil. Tanpa sedikitpun canda gurau yang terselib di dalam wajahku.

Setelah sampai di depan pintu pondok. Saya langsung di sambut oleh dua santri, yang lebih dulu mondok di sana.

Dengan memakai sorban berwarna hijau, untuk menyelimuti tubuhnya, sementara yang satu lagi memakai kopyah hitam yang menjadi ciri has pesantren madura.

Mereka kedua adalah Moh Yahya dan ustad Wiwit, yang lebih dulu mondok di sana.

Berselang beberapa saat kemudian. Ayah mengajakku untuk menghadap kepada pengasuh yang katanya adalah putra tertua dari pendiri pondok pesantren Nurul Ulum.

Alhamdulillah, saya dan keluarga di sambut dengan senyum penuh wibawa oleh pak kyai. Sembari mempersilahkan saya dan keluarga untuk duduk.

“Bagaiman kabar Bapak dan keluarga?” pak kyai memulai pembicaraan.

“Alhamdulillah baik pak kyai, ayah menjawab dengan penuh sopansantun”

“Mohon doanya pak kyai semoga anak saya bisa betah   tinggal di pondok ini”

Beliau hanya bisa mengangguk-ngangguk kepala sambil menoleh ke arahku. Yang dari tadi hanya tertunduk  dengan sejuta pertanyaan. Yang tiba-tiba muncul di kepalaku.

“Namanya siapa?” pak kyai menatapku sambil menunjukkan kewibawaannya dan  tersenyum.

“Sarif pak kyai, jawab saya.

“Semoga betah sarif tinggal di pondok ini. Dan jangan lupa rajin-rajinlah belajar, supaya bisa mewujudkan impian kedua orang tua nya”

“Insya allah pak kyai. Jawab saya dengan penuh kegugupan”

Proses Adaptasi

Sepuluh menit kemudian ayah berpamitan sama Pak kyai. Lalu saya  langsung menuju ke Asrama yang berada di sebelah Rumah beliau, Rumah baruku.

Sekaligus Penjara suci. Setidaknya istilah itulah yang saya dengar dari teman-teman sewaktu saya berpamitan sebelom saya berangkat ke Pondok.

Sesampainya di Asrama saya di sambut oleh teman baruku.

Pertama yang saya huni. Segalanya sepintas terlihat baik-baik saja, akan tetapi setelah ayah dan ibu berpamitan padaku, tiba-tiba perasaan untuk ikut pulang menghampiri pikiranku.

Kemudian saya berkata pada ayah dan ibu. Jangan lupa do’akan anakmu ini supaya bisa mencapai apa yang ayah Ibu impikan.

Hari pertama masuk  kelas. Tak banyak yang saya lakukan meski santri baru yang lain saling berkenalan satu sama yang lain.

Saya hanya terdiam sambil melihat ke arah orang yang asing yang sejak saat itu resmi menjadi teman kelasku. Dan juga menjadi teman baruku di pondok pesantren Nurul Ulum Banyuaryar Sampang.

Di antara mereka ada yang menarik perhatianku. Yaitu anak laki-laki yang mempunyai badan besar atau lebih tepatnya lagi berbadan lebar dalam arti ( Gemuk ).

Lagi asyik berbicara dengan teman barunya. Yang mempunyai tubuh kurus dengan mata sipit. Yang mana membuat saya  tertawa melihat tingkah lucu anak laki-laki tersebut yang berada di dalam kelas.

Setelah beberapa hari saya tinggal  di Pondok tersebut. Baruku tau nama mereka berdua, yaitu Huzaimi yang mempunyai badan gemuk, dan Amirullah Yang mempunyai badan kurus.

Dan kemudian hari saya memanggilnya dengan sebutan Baser. Karena mempunyai badan Gemuk, dan untuk yang satu ini saya setuju untuk di jadikan Komedi terkenal saking lucunya dia.

Selain dari  kedua orang tersebut ada lagi teman saya yang juga menarik perhatian saya. Yaitu Fahat Avandi namanya, dan satunya lagi adalah Ahmad Farhan.

Kedua-duanya sama-sama berasal dari Desa Gulbung. Yang kemudian hari menjadi teman dekatku, dan bersama merekalah saya lalui hari demi hari.

Hanya ingin mewujudkan impian ayahku dan Cita-citaku.

Mulai belajar

Setelah satu minggu saya berada di pondok pesantren tersebut. Saya akhirnya mulai belajar yang namanya ilmu Agama, mulai dari ilmu Nahwu, Sorrof, dan ilmu  Fiqih.

Karna saya berangkat ke pondok tidak mempunyai modal apa-apa. Bahkan saya tidak membawa bekal sama sekali, hanya saja membawa bekal bisa mengaji saja.

Akhirnya saya merasa malu, karna kebodohanku.

Di situlah saya di berikan motivasi oleh seorang santri lawas yang berasal dari Desaku  juga. Yahya adalah Namanya.

Beliau berkata kepada saya. Jangan pernah putus asa, selama nafas ini bisa berusaha.

Karna insyaallah, pertolongan Allah selalu ada berada bersama kita, karna Allah sudah berfirman, yang artinya; Sesungguhnya setiap kesulitan pasti ada kemuadahan.

Alhamdulillah, akhirnya saya belajar prifat kepada seorang Ustad. Hanya saja untuk mengisi waktu lowongku di pesantren.

Prifat sebuah ilmu yang menjadi pokok utama di pesantren, yaitu ilmu Nahwu.

Atau lebih di kenal lagi dengan sebutan ilmu kalam. Karna sebuah kalam bahasa Arab tidak bisa di fahamin tanpa ilmu Nahwu.

Dengan jerih  paya  usahaku, dan berkat  do’a kedua orang tuaku, akhirnya saya bisa memahami ilmu nahwu.

Walaupun sedikit demi sedikit yang terpenting saya sudah bisa membuahkan sebuah hasil.

Semuanya semata-mata karna ada pertolongan Allah. Karna Allah tidak pernah ingkar terhadap janjinya,

Ujian akhir semester

Tak terasa hampir satu tahun saya tinggal di Pondok tersebut, dan sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir semester, dan ini menunjukkan siapa saja yang tidak akan naik kelas.

Akhirnya saya meningkatkan cara belajar saya, agar saya bisa naik kelas. Dan bisa membahagiakan kedua orang tua saya waktu imtihanan akhir sanah nanti.

Ujian telah tiba waktunya, yang dulunya menjadi seorang teman ketika ujian menjadi musuh sementara. Karna berlomba-lomba di dalam kebaikan, dan ingin mencapai nilai yang tinggi semuanya.

Supaya nanti, bisa membahagiakan orang tuanya masing-masing di waktu imtihanan akhir sanah Nanti.

Alhamduillah, akhirnya saya bisa membahagiakan kedua orang tua saya di waktu imtihanan. Karna saya bisa berhasil menjadi rangking nomer satu, dan semua perlombaan saya menang semuanya.

Ini adalah sekilas cerita perjalanan saya sebagai santri. Semoga bisa menjadi motivasi kepada kita semua amin yarabbal alamin.

Allah always be there…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *