Amanah Seorang Guru

3 min read

Setelah saya lulus sekolah Aliyah. Kemudian saya dikasih amanah oleh guru saya, supaya mengajar dipondok pesantren. Ea saya ikuti, semua apa yang di perintahkan guru saya.

Walaupun saya bisa di katakan masih bodoh, tapi ini karna sebuah amanah. Maka saya jalani dengan sabar dan ikhlas.

Karna mengajar membutuhkan mental yang sangat kuat. Apalagi murid yang di hadapi nakal-nakal, aduh minta ampun deh. Hanya bisa mengelus dada, supaya jadi ikhlas yang ngajarnya.

Apalagi muridnya balita, masih kurang bahagia. Ea udah kalo masuk kelas langsung rami. Namanya juga anak-anak. Cukup dengan cara yang sederhana, untuk bahgia.

Maka dari itu, saya siapkan semuanya. Sebelom saya masuk kelas, mulai dari apa yang mau disampaikan, terkadang, murid kalo ada guru baru sering diuji dengan sebuah pertanyaa.

Ea udah, saya antisipasi dulu, kan saya sebelom jadi guru, sudah menjadi murid. Masak kalah dengan muridnya, ea ngga lah.

mengajar

Saya mengajar ilmu Nahwu, dan Sorrof. Salah satu pelajaran favorit saya, ketika masih menjadi seorang santri. Hanya saja, terkadang santri yang diajarkan malas klo lagi belajar Nahwu.

Memang ilmu Nahwu, adalah pelajaran yang tidak disukai oleh santri, karna emang sulit untuk memahaminya. Tapi kalo sudah tertanam cinta di dalam hatinya, inyaallah ada jalan keluar.

Menjadi seorang guru tentunya harus sabar, ketika menghadapi santri yang nakal. Itu sudah resiko menjadi guru, karna tak semunya buah rasanya manis, pasti ada yang pahid. Begitu juga guru.

Pernah ketika saya masuk kelas, semua santrinya tertidur. Akhirnya saya sadar, bahwa ini adalah hukum karma kepada saya. Karna waktu saya menjadi murid, dulu pernah tidur sebelom guru masuk kelas.

Ternyata benar kata guru, apa yang kita lakukan sekarang ini. Pasti suatu saat ada balasannya semuanya, oleh karna. Kita harus memperbanyak melakukan amal kebaikan.

Insyaallah pahalanya akan kembali ke diri kita semua.

Biasanya sebelom saya mengajar. Saya terlebih dahulu belajar di kamar, biar nanti klo di kelas tidak bingung lagi deh. Biar enak menjelasinya pada murid-murid.

Mendidik

Menjadi seorang guru, bukan hanya mengajar saja yang dilakukan. Akan tetapi harus mendidik, biar murid mempunyai adab.

Karna semua apa yang dilakukan murid, itu tergantung apa yang diajarkan gurunya.

Memang menjadi guru harus sabar. Biasanya klo ada murid yang berprestasi, semua orang pasti mengatakan. Anaknya siapa anak ini?

Padahal kesuksesan seorang murid, karna ada guru yang hebat.

Tapi, berawal dari mendidik seorang murid, saya bisa tau cara mendidik anak. Karna saya tau, mana murid yang baik, dan nakal.

Banyak pelajaran yang saya ambil, ketika menjadi guru. Mulai dari kekurangan saya, sampai kebodohan saya, semuanya kelihatan.

Sebab manusia itu tidak pernah sadar dengan aibnya sendiri, hanya orang lainlah yang bisa mengetahuninya.

Oleh karna itu, saya sarankan kepada teman-temanku. Belajarlah dengan giat, sebelom menjadi guru.  Bila perlu persiapkan semuanya, mulai dari  mental sampai metodenya.

Bermain

Saya bukan hanya mengajar saja, akan tetapi saya juga mengajak murid-murid bermain juga. Dalam arti bermain sambil belajar.

Ea maklumlah, yang dihadapai anak kecil, pasti klo sudah hiburan baru semangat semua. Emang kalo jadi guru itu harus pintar-pintar berfikir.

Menjaga

Bukan hanya itu yang saya lakukan, tetapi saya juga memantau setiap harinya. Apakah ada perubahan murid yang saya didik, klo tidak ada.

Maka saya mencari cara lagi. Supaya murid ini bisa berubah.

Tapi alhamdulillah, semua murid yang saya didik. Semuaya ada perubahan, Mulai dari adab, sampai cara baca kitab kuning, ternyata apa yang saya perjuangkan, tidak sia-sia.

Walaupun saya tidak mempunyai begitu banyak ilmu, tapi alhamdulillah semua ada barokah nya. Bisa bermanfaat untuk masyarakat.

Memang benar apa yang dikatakan pepatah. Ilmu tanpa pengamalan, bagaikan pohon tak berbuah. Jadi bagi semua pecinta majlis ilmu, amalkanlah ilmu yang kamu punya.

Ngga perlu ilmu yang kamu punya banyak, kalo pada akhirnya tanpa pengamalan.

Tapi perlu di garis bawahi, semua ilmu yang kita punya, kalo ingin barokah maka harus mengabdi kepada seorang guru. Karna barokahnya ilmu karna ada pengabdian

Menjadi contoh

Saya sebagai seorang guru, tentu harus memberikan contoh yang baik kepada murid-murid. Karna setiap apa yang saya lakukan, pasti dilihat oleh murid.

Oleh dengan, itu saya berpedoman kepada satu hadis yang artinya. Barang siapa yang menunjukan kepada satu kebaikan, lalu kebaikan tersebut ada orang yang melakukannya. Maka baginya pahala juga.

Maka dengan itu, kita kalo bisa memperbanyak melakukan amal-amal sholeh, barangkali ada yang niru. Kan jadi tambahan pahala kita.

Dan sebaliknya, apabila kita melakukan maksiat. Maka kita juga mendapatkan dosa, apabila ada orang yang menirunya.

Contohnya  anak nabi Adam. Dia sampai hari kiamat terus mengalir yang namanya dosa, apabila masih ada yang namanya pembunuhan. Karna dia yang memberikan contoh pertama kalinya.

Menyuruh

Jangan pernah bosan menyuruh muridnya, melakukan amal kebaikan. Karna dengan mengingatkan seorang murid, insyaallah ada manfaatnya.

Jadi klo bisa, apabila kita menyuruh murid, setidaknya ketihatan murid yang lainnya. Biar menjadi contoh.

Tujuannya, biar murid tau, bagaimana menghargai seorang guru. Karna kalo murid di zaman yang melenial ini, kalo tidak disuruh tetap aja seperti itu.

Makanya klo bisa guru itu sering-sering menyuruh muridnya, pada suatu kebaikan. Seperti sholat dhuha, baca Al qur’an, dan sholawat kepada nabi Muhammad,saw.

Musyawarah

Banyak manfaatnya juga, musyawarah ini. Karna kebanyakan murid, banyak yang  mengerti ketika musyawarah.

Dan musyawarah ini sudah dipraktekan oleh semua lembaga. Hususnya kalangan pesantren, karna banyak yang berhasil, ketika mencobanya.

Biasanya kalo malam, setelah mengajar. Masih ada musyawarah di depan kamar, biar apa yang dipelajari di kelas. Supaya tambah ingat, biar tak cepat hilang.

Karna terkadang ada juga santri yang kurang peka. Sekarang ingat, besok ketika masuk kelas lupa lag ketika ditanyakani. Oleh karna itu di adakan musyawarah.

Itulah otak manusia, daya ingatnya hanya sedikit. Tapi kenapa banyak yang pintar? Jawabanya hanya satu, yaitu tambahkan taqwa kita kepada Allah, insyaallah akan menambahkan kecerdasan kita.

Dengan menambahkan ketaqwaan kita kepada Allah. Maka Allah akan membuka pintu pemahaman kepada kita,

Ini adalah perjalanan saya ketika mengajar di pondok pesantren. Ahamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, selama satu tahun, walaupun yang saya ajarkan kurang efektif.

Tapi saya sangat bersyukur, karna di sana banyak pelajaran, yang saya dapatkan. Mulai dari mengetahui, bahwasannya ilmu yang saya punya masih sedikit.

Masih perlu banyak belajar lagi. Karna yang kita hadapi, ketika sudah pulang dari pondok, bukan murid lagi, akan tetapi masyarakat.

Jadi kalo kita di pondok, sudah tidak bisa menghadapi seorang murid. Maka jangan harap ketika pulang bisa menghadapi sesuatu yang lebih berat, yaitu masyarakat.

Karna santri adalah yang menjadi tolak ukur masyarakat. Jadi kalo santrinya sudah rusak, bisa jadi kampung itu akan hancur.

Pemuda sekarang adalah pengganti dihari esok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *