Mengabdi Kepada Seorang  Guru

4 min read

Tepatnya hari senin tak terasa saya sudah tiga tahun berada di pondok pesantren. Dan sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional. Pintu masuk untuk mewujudkan cita-citaku semakin dekat.

Akan tetapi apa yang saya rencanakan tak sesuai dengan harapan saya. Karna di hari itu saya di panggil oleh seorang guru.

Yang mana termasuk dari salah satu putra pendiri pondok yang terkenal dengan kezhuhutannya.

Untuk di jadikan pembantunya. Karna pembantu sebelumnya mau menjalanin sunnah Rosul. Karna guru yang satu ini bisa di katakan tidak pernah berinteraksi dengan seorang santri layaknya.

Bahkan semua santri takut kepada beliau, karna beliau  mempunyai ucapan yang sangat mustajab. Bisa di katakan beliau adalah wali allah.

maka saya sangat berhati-hati kepada beliau. Selama saya mengabdi kepadanya, karna takut mendapatkan balaknya.

 

Mengabdi

 

Mulailah sebuah pengabdian kepada guru, banyak pelajaran yang saya tinggalkan, mulai dari pelajaran agama, hingga pelajaran formal.

Semuanya saya terpaksa tinggalkan karna gac sempat yang mau belajar.

karna  sibuk  belanja dan memasak setiap hari yang saya lakukan, semuanya  hanya untuk guruku. Walaupun hati ini gac begitu menyangka, klo saya bisa mengabdi kepada guru seperti beliau.

Akan tetapi saya tetap tegar di dalam menjalanin amanah ini, setiap beliau menyuruhku saya. Selalu berkata siap kepada beliau.

Walaupun terkadang saya tidak tau dimana barang tersebut di jual. Karna saya tidak mau megecewakan guruku.

Ternyata setelah saya mengabdi kepadanya. Beliau mempunyai sebuah rutinitas dan hanya saya yang mengetahui rutinitas itu, dan ini adalah sesuatu yang sangat berharga buat saya.

karna saya satu-satunya santri yang bisa mengetahui kegiatannya  setiap hari. Jadi orang yang mengabdi kepada beliau adalah orang-orang pilihan.

Pernah saya mendengar dari seorang alumni pondok, dia bercerita kepada saya tentang beliau. Dulu banyak santri yang ingin mengabdi kepada beliau.

Akan tetapi semuanya di tolak. Karna tidak mempunyai kriteria yang cocok padanya.

Pernah suatu hari ada orang yang ingin bertemu dengan guruku. Biasanya sebelum bertemu mencari saya terlebih dahulu, karna saya satu-satunya santri yang dekat bersama beliau.

Tidak ada lain hanya ingin di jadikan perantara supaya bisa bertemu bersamanya.

Beliau bisa di katakan  wali Allah yang hanya sebagian orang yang mengetahuinya. Karna sewaktu saya belajar sama lora saya, termasuk keponakan dari guru saya juga.

Dia bercerita bahwasanya guru saya pernah berada di Makkah almukarramah. Padahal guru saya setiap harinya berada di dalam kamar sambil tertidur, masya Allah.

Belanja

Sebelom saya pergi ke pasar biasanya saya pergi dulu ke rumah guru saya. Untuk mencatat apa yang di belanjakan hari ini.

Lalu sebelom mengucapkan salam. Saya terlebih dahulu mengetuk pintunya, kemudian saya masuk dan duduk di bawahnya, hanya untuk memulyakan guru saya.

Akhirnya beliau berkata bahwasannya hari ini belanja ayam satu kilo, dan sayuran 5000, dan kegiatan ini saya lakukan setiap hari. Selama saya mengabdi kepada guru saya.

Kurang lebih empat tahun lamanya. Karena barokahnya ilmu di peroleh karna adanya sebuah pengabdian kepada guru.

Hujan selalu saya terjang, dan angin selalu saya lewati. Hanya untuk mencari barokahnya, Jadi apabila kamu menanyakan tentang ilmu kepada saya. Saya tidak mempunyai ilmu sama sekali.

karna aktivitas saya ketika berada di pondok pesantren hanyalah mengabdi kepada guru saya. Dan selalu pergi ke pasar setiap harinya.

Saya selalu teringat perkataan guru saya. Beliau pernah mengatakan  seandainya bukan karna guruku, maka saya tidak akan tau siapa tuhanku.

Munkin pepatah tersebut sudah tidak asing lagi untuk kalangan santri.

Oleh karna itu saya sarankan kepada semua santri. Hormatilah gurumu, sebagaimana kamu menghormati kedua orang tuamu.

Karna insyaallah, apabila kita sudah menghormatinya, barokah akan menghampiri kepada kita semua.

Alhamdulillah selama saya mengabdi kepada guru saya. Kemudahan selalu menghampiri hidupku, dan keluargaku.

Mulai dari di berikan kelancaran rejeki, sampai di berikan kesehatan setiap harinya. Memang semuanya karna kuasa Allah swt, akan tetapi inyaallah semuanya melalui perantara guruku.

Memasak

Biasanya setiap kali saya pulang dari pasar. Saya langsung pergi ke dapur untuk memasak apa yang sudah di belanjakan hari ini.

Namun sebelom memasak ikan saya terlebih dahulu memasak nasi untuknya. Biar jadi gampang nanti ketika ikannya sudah matang supaya bisa langsung di makan olehnya.

Rutinitas itulah yang saya pelajari setiap harinya. Selama saya berada di pondok tersebut, akan tetapi alhamdulillah semua pasti ada hikmahnya.

berkat dari pengabdian kepada guru. Saya mengetahui bahwasannya hidup itu jangan pernah menggantungkan kepada manusia.

Karna klo bergantung sama manusianya, yang di dapatkan adalah sebuah penyesalan, insyaallah kamu sudah mengetahui faktanya.

Biasanya kalo hari raya idul fitri, guru selalu  menyuruh saya untuk membeli kepada kambing ke Pamekasan. Untuk di jadikan gule, dan membeli otak sapi untuk menambahkan kecerdasannya.

Dan di tambah satu lagi yaitu membakar ayam kampung kesukaan guru saya.

Pernah suatu hari guru menyuruh untuk memasak kerupuk ikan. karna guru saya  sudah tidak mempunyai yang namanya gigi. Maka guru menyarankan klo memasak kerupuk jangan lama-lama, biar nanti bisa di makan.

saya hanya bisa menganggukkan kepala saya, dan mengikutin apa yang guru perintahkan.

Setiap kali saya mau memasak, semuanya saya niatkan hanya untuk mencari barokahnya. Dan supaya ilmu yang saya dapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi ummat semuanya.

Hususnya kepada diri saya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Menemani

Biasanya klo guru sakit parah, pasti selalu meminta saya untuk menemani. Agar supaya nanti klo ada apa-apa terhadapnya, biar saya bisa langsung membantunya.

Biar gak usah memanggilnya lagi. Hanya kehati-hatianlah yang saya jaga di saat berada di samping guru saya.

Pernah suatu hari beliau mengalami sakit yang tak seperti biasanya orang sakit. Seperti anak kecil yang tidak bisa berjalan, dan di badannya terkenak penyakit kulit.

walaupun jiwa ini sangat jijik untuk merawatnya, akan tetapi saya tetap melakukannya. Karna saya tak ingin guru saya merasakan sebuah kekecewaan.

Guru saya mempunyai hati yang sangat lembut dan ramah. Akan tetapi beliau sangat marah apabila melihat sebuah perkara munkar yang di lakukan oleh santrinya.

Karna perkara munkar, tidak pantas di lakukan oleh seorang santri layaknya.

Sering kali berkata kepada saya. Bahwasannya hidupku, dan keluargaku, sudah di tanggung semuanya.

Di situlah saya tambah yaqin, bahwasannya guru saya adalah benar-benar wali Allah yang tersembunyi.

Karna setiap kata yang di ucapkan kepadaku, semuanya pasti benar dan terbukti.

Jadi saya sangat bersyukur kepada Allah. Karna telah mempertemukan saya bersama walinya. Dan bahkan saya bukan hanya bertemu saja, akan tetapi bisa mengabdi kepadanya.

Ini adalah sesuatu yang sangat istimewa yang pernah hadir di dalam hidupku.

Sampai sekarang setiap barang yang di kasih oleh oleh guru saya. Semuanya saya simpan dan di jadikan sebuah kenang-kenangan. Mulai dari sandal, kopyah dan uang.

karna biasanya klo sudah bulan puasa, beliau sering ngasih saya uang.

Untuk di jadikan jajan setiap harinya. Akan tetapi semuanya saya simpan, dan di jaga betul-betul.

Ini adalah sekilas cerita pengabdian saya kepada guru saya. Sebagai bentuk supaya ilmu yang di dapatkan menjadi ilmu yang barokah.

Untuk apa cari ilmu yang banyak kalo tidak barokah. Lebih baik ilmu yang sedikit tapi insyaallah bisa di kembangkan di masyarakat, nanti ketika keluar dari pondok tersebut.

Semoga artikel kecil ini bisa membuat hati pembacanya menjadi semangat lagi. Untuk menjalani sebuah kehidupan di Pondok Pesantren, hususnya bagi setiap santri.

Karna tiada ridho yang saya inginkan, terkecuali  segala sesuatu yang membuat guruku ridho.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *