Kandungan Surat Al-Maidah Ayat 48

5 min read

Isi Kandungan Surat Al-Maidah Ayt 48 – Surat Al-Maidah ayat 48 adalah salah satu ayat Al-Qur’an yang menjelaskan  tentang pedoman hidup.

Menurut Imam Ahmad surat ini ketika Nabi Muhammad sedang naik unta. Sehingga hampir unta itu patah karna begitu beratnya wahyu yang diterima Nabi.

Surat Al-Maidah ayat 48 merupakan surat yang tergolong surat Madaniyah. Dengan itu, bagi teman-teman yang masih belum mengetahui kandungan ayat 48 surat Al-Maidah. Mari kita sama-sama simak artikel ini sampai selesai.

Surat Al-Maidah Ayat 48

isi kandungan surat al-maidah ayat 48
sumber: miro.medium.com

Ayat 48 surat Al-Maidah menegaskan bahwa setiap kaum sudah diberikan syariat dan aturan. Sehingga Allah mengutus para Nabi untuk memberi petunjuk kepada manusia agar berjalan pada jalan yang benar.

Ayat ini menegaskan pula bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat tinggi, sehingga bisa menjadi pembenar kitab-kitab sebelumnya.

Dalam akhir ayat ini mengatakan. Bahwa perbedaan syariat seperti layaknya perbedaan manusia dalam penciptaannya, yaitu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.

Namun dengan adanya sebuah perbedaan itu merupakan rahmad agar manusia saling mengenal satu dengan yang lainnya.

Ayat ini juga mendorong kepada kita dalam mengembangkan berbagai macam kemampuan yang sudah dimiliki oleh manusia. Bukan malah menjadi perdebatan dalam adanya perbedaan.

Isi Kandungan Surat Al-Maidah Ayat 48

  • Allah menciptakan manusia beragam macam. Hanya saja untuk menguji mereka serta memberi kesempatan agar berlomba-lomba dalam kebaikan.
  • Setiap umat tentu memiliki hukum dan syariat yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi hidup dan masa mereka. Namun secara aqidah tujuan sama yaitu bertauhid kepada Allah.
  • Al-Qur’an merupakan kitab yang benar dan tidak ada keraguan di dalamnya. Sehingga ia bisa membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Sebab kitab sebelumnya sudah tidak otentik lagi, karna sudah banyak yang dirubah oleh tangan manusia.
  • Seluruh umat yang Allah ciptakan akan kembali lagi kepadanya. Sehingga mereka semua akan mendapatkan balasan terhadap apa yang sudah dikerjakan di dunia.
  • Ayat ini pula mengajak kita semua agar senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan.

Bunyi Surat Al-Maidah Ayat 48

وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَـقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَا حْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ الْحَـقِّ ۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَا جًا ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَجَـعَلَـكُمْ اُمَّةً وَّا حِدَةً وَّلٰـكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَاۤ اٰتٰٮكُمْ فَا سْتَبِقُوا الْخَـيْـرٰتِ ۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ۙ

Wa anzalnaa ilaikal kitaaba bilhaqqi mushaddiqal limaa baina yadaihi minal kitaabi wa muhaiminan ‘alaihi. Fahkum bainahum bimaa anzalallaahu wa laa tattabi’ ahwaa ahum ‘ammaa jaaa’aka minal haqq.

Likulling ja’alnaa minkum syir’ataw wa min haajaa. Walau syaa Allaahu laja’alakum  ummataw waahidataw wa lakil liyabluwakum fii maa aataakum fastabiqul khairat. Ilallahi marji’ukum jamii’ang fa yunabbi’ukum bimaa kuntum fiihi takhtalifun.

Arti Surat Al-Maidah Ayat 48

Dan Kami (Allah) telah menurunkan Al-Qur’an kepada Engkau Muhammad dengan membawa kebenaran. Sehingga bisa membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.

Maka putuskanlah perkara mereka mnurut apa yang sudah diturunkan Allah. Kemudian janganlah Engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepada Engkau, untuk setiap umat di antaramu.

Maka kami (Allah) akan berikan aturan serta jalan yang terang. Apabila Allah mengkehendaki, niscaya Engkau akan dijadikannya satu umat saja.

Tapi apabila Allah hendak menguju Engkau terhadap karunia yang telah diberikan kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Hanya kepada Allah Engkau semua akan kembali, kemudian diberitahukannya kepadamu terhadap apa yang dahulu Engkau perselisihkan.

Tajwid Surat Al-Maidah Ayat 48

Ilmu tajwid tentu menjadi pedoman ketika kita hendak melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan itu bagi yang belum bisa, maka hendaklah mempelajarinya.

Sesuai dengan apa yang sudah saya jelaskan di atas. Maka saya akan menjabarkan hukum tajwid yang ada pada surat Al-Maidah ayat 48. Berikut ini rinciannya.

وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَـقِّ

  1. وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ Bacaan ikhfa’ haqiqi karna nun matiن  bertemu dengan ز. Cara bacanya samar serta dibarengi degung dengan panjang 3 harakat. Kedua bacaan mad jaiz munfasil, karna huruf alif bertemu dengan huruf hamzah dalam dua kalimat. Cara bacanya dengan dipanjangkan 4-6 harakat.
  2. Ketiga bacaan mad layyin karna ي mati diawali oleh hurufberharakat fathah, cara bacanya dengan dipanjangkan 2 harakat.
  3. مُصَدِّقًا لِّمَاِ Bacaan idgham bilagunnah, karna harakat tanwin bertemu dengan huruf ل. Cara bacanya dimasukan serta dengan dengung.
  4. Mad thabi’i, karna huruf nun fathah setelahnya terdapat alif. Cara bacanya dibaca panjang 2 harakat.
  5. بَيْنَ يَدَيْه Bacaan mad layyin karna mati ي diawali oleh huruf berharakat fathah. Cara bacanya dibaca panjang 2 harakat.
  6. مِنَ الْكِتٰبِ Bacaan alif lam qamariyah, karna alif lam bertemu huruf ك, cara bacanya dibaca jelas. Kedua bacaan mad layyin.
  7. وَمُهَيْمِنًا عَلَيْه Bacaan idhar khalqi, karna fathah tanwin bertemu dengan huruf ع, cara bacanya dibaca jelas.

Surat Al-Maidah Ayat 48 Mp3

  1. فَا حْكُمْ بَيْنَهُمْ Bacaan ihkfa’ syafawi, karna mim mati م bertemu dengan huruf ب . Cara bacanya disamarkan serta didegungkan selama 3 harakat.
  2. بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ Bacaan mad jaiz munfasil, karna huruf alif bertemu dengan hamzah dalam dua kalimat. Cara bacanya dibaca panjang 4-6 harakat. Bacaan ikhfa’ haqiqi, karna nun mati ن bertemu bertemu dengan huruf ز. Cara bacanya dengan menyamarkan suara nun mati dan disertai dengung dengan panjang 3 harakat.
  3. Bacaan tafkhim, karna lafad Allah diawali huruf berharakat fathah, cara baca dengan menebalkan suara.
  4. وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ عَمَّا Bacaan gunnah, karna ada huruf mim bertasydid, cara bacanya dengan dengung serta ditahan sesaat.
  5. جَآءَكَ Bacaan mad jaiz munfasil, sama kayak di atas.
  6. مِنَ الْحَـقّ Bacaan qolqola qubra, karna ada salah satu huruf qolqolah yaitu ق berada di ahir kalimat. Cara bacanya dengan memantulkan
  7. لِكُلٍّ جَعَلْنَا Bacaan ikhfa’ haqiqi.
  8. مِنْكُمْ Bacaan ikhfa’ haqiqi.
  9. شِرْعَةً وَّمِنْهَا جًا Bacaan idgham bigunnah, karna fathah tanwin bertemu dengan huruf و. Cara baca dimasukan dengan disertai dengung.

Demikianlah penjabaran tentang hukum tajwid yang ada pada surat Al-Maidah. Untuk info lebih lengkapnya bisa teman-teman lihat di situs branly, di link tersebut.

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 48

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 48
sumber: nasehatquran.com

Tafsir surat Al-Maidah ayat 48 diambil dari kitab Munir dan Al-Azhar. Dengan harapan agar teman-teman mudah dalam memahaminya.

Oleh karna itu, saya ingin memaparkan beberapa poin yang merupakan intisari dari ayat 48 surat Al-Maidah ini. Diantaranya sebagai berikut.

Iman Kepada Al-Qur’an

Poin pertama yang bisa kita ambil dari surat Al-Maidah ayat 48 adalah Allah telah menegaskan salah satu fungi kitab Al-Qur’an.

وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَـقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْه

Ayat ini menegaskan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad. Hanya ingin membawa kebenaran yang ada di dalamya.

Kata مُصَدِّقًا diambil dari bahasa Arab تصدق yang artinya membenarkan. Yang dimaksud di sini adalah bisa membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

Walaupun dalam ayat ini kata الكتاب tunggal (mufrad), namun yang dimaksud adalah jama’ yaitu Al-Kutub الكتب. Kitab –kitab yang dibenarkan adalah Injil, Zabur, dan Taurat sebelum diubah isinya oleh manusia.

Adapun kata وَمُهَيْمِنًا عَلَيْه menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsr Munir adalah pengawas. Sehingga bisa menjaga kitab-kitab terdahulu dan menjadi saksi mengenai tentan keabsahannya.

Jadi menurut Imam Ibnu Juraij semua isi kitab terdahulu yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an, maka itu batil. Sedangkan semua isi dari kitab terdahulu yang sesuai dengan Al-Qur’an, maka itu benar.

Sehingga ketika kita menemukan ada kitab-kitab terdahulu yang isisnya bertentangan dengan Al-Qur’an. Maka kita tidak boleh mempercayai keotentikannya.

Al-Qur’an selain membenarkan kitab terdahulu, ia juga menjadi hakim atas keabsahannya kitab-kitab tersebut. Inilah salah satu fungsi Al-Qur’an.

Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

Poin kedua yang bisa kita ambil adalah. Bahwa Allah telah memerintahkan kepada semua umat muslim agar selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an. Sebagaimana dalam potongan ini.

فَا حْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ الْحَـقِّ

Menurut Ibnu Abbas salah satu sebab turunnya ayat ini adalah ketika ahli kitab meminta keputusan kepada Nabi Muhammad.

Maka Allah menurunkan ayat ini ketika Nabi diberi pilihan untuk memutuskan perkara mereka. Sehingga harus mengembalikan perkara itu kepada kitab-kitab mereka masing-masing.

Ayat ini juga berlaku dengan umum. Bahwa segala keputusan orang yang beriman harus berdasarkan dengan Al-Qur’an dan tidak boleh bertentangan dengannya.

Sebagaimana Nabi Muhammad tidak memutuskan dengan mengikuti hawa nafsu mereka. Karna semua kitab-kitab merekas sudah banyak yang diubah isinya.

Oleh karna itu, agama Islam merupakan agama yang sempurna, jadi tidak ada jalan lagi untuk mengganti dan merevisi agama ini. Karna Allah telah meridhai agama Islam ini menjadi manhaj kehidupan semua manusia.

Semua Umat Memiliki Syariat masing-masing

Poin ketika yang bisa kita ambil, bahwa Allah telah menegaskan bahwa setiap umat sudah memiliki syariat masing-masing. Sebagaimana dalam potongan ayat ini.

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَا جًا

Menurut Imam Syaikh wahbah. Bahwa kata شِرْعَةً adalah syariat Allah yang telah diberikan kepada semua hambanya, berupa aturan, sistem, aturan, dan agama.  Adapun kata وَّمِنْهَا جًا adalah jalan terang yang bisa ditempuh oleh manusia dalam agama.

Namun perlu teman-teman ketahui, bahwa semua ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul adalah ajaran tauhid (لااله الالله). Sebagaimana dalam surat An-Nahl ayat 36:

وَلَـقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَا جْتَنِبُوا الطَّا غُوْتَ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِيْ الْاَ رْضِ فَا نْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

Artinya:

Sungguh kami (Allah) telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat, maka sembahlah Allah dan jauhilah Tagut

Kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah, ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi serta perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan para Rasul.

Walaupun banyak perbedaan antara satu umat dengan umat lainya. Seperti, adakalanya suatu hal dalam syariat diharamkan, namun dalam syariat lain dihalalkan. Oleh karna itu, hal yang demikian mengandung sebuah hikmah dari Allah yang Maha Esa.

Berlomba-lomba Dalam Kebaikan

Dalam potongan ayat ini Allah memerintahkan para hamba-hambanya agar selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.

وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَجَـعَلَـكُمْ اُمَّةً وَّا حِدَةً وَّلٰـكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَاۤ اٰتٰٮكُمْ فَا سْتَبِقُوا الْخَـيْـرٰتِ

Berlomba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hanyalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga tetap berpegang teguh dalam ketaatan kepada Allah, serta percaya bahwa hidup masih ada lagi nanti di akhirat.

Allah telah menetapkan berbagai macam syariat untuk menguji para hamba-hambanya. Sehingga Allah memberikan pahala kepada orang yang taat dan menyiksa bagi mereka yang durhaka.

Maka seandaiyan Allah berkehendak menjadikan manusia sejak Nabi Adam sampai kiamat menjadi satu umat, sangat mudah baginya. Namun ini merupakan kehendak Allah agar bisa mengetahui mana yang taat dan mana yang durhaka.

Semua Akan Kembali Kepada Allah

Semua Akan Kembali Kepada Allah
sumber: bujairimi.blogspot

Poin yang terakhir yang bisa kita ambil adalah, bahwa semua makhluk yang Allah ciptakan semua akan kembali kepadanya.

اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

Jadi kehidupan yang sekarang ini merupakan suatu jalan menuju kehidupan yang kekal abadi yaitu akhirat. Walaupun orang-orang kafir tidak percaya dengan adanya akhirat, mereka berselisih dalam hal ini.

Oleh karna itu, mereka akan mendapatkan balasan berupa neraka, sedangkan orang-orang yang berimana akan mendapatkan surga. Jadi kita semua akan kembali kepada Allah serta akan diberitahukan semua apa yang telah diperselisihkan di dunia.

Demikian penjelasan tentang isi kandungan surat Al-Maidah ayat 48, semoga bisa menjadi tambahan ilmu kepada kita semua. Apabila ada kesalahan dalam artikel ini, teman-teman bisa kirim komentar di kolom di bawah ini. Terima kasih telah berkunjung di situs kami.

Jangan lupa bantu share.

Keutamaan surat Al-waqiah

NH_Ariff
4 min read

Pengertian Al-Qur’an

NH_Ariff
7 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *