Ingin Menjadi Pemain Bola

3 min read

Ini adalah cerita saya pada waktu masih anak-anak, karna olah raga yang sangat saya cintai bermain bola. Akhirnya saya bersungguh-sungguh dalam bermain.

Sebelom saya bermain, biasanya saya pemanasan terlebih dahulu, supaya nanti staminya bertambah.

Klo sudah bermain bola itu wow. Sudah tidak mengenal yang namanya waktu, walaupun di masjid sudah terdengar suara adzan. Tetap aja masih fun bermain.

Ea understand namanya juga masih anak-anak, yang penting happy walaupun dengan cara yang sederhana.

Hobi

Tak terasa hampir 6 tahun saya duduk dibangku Sd, sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional. Pintu masuk menuju hobiku akan terbuka sebentar lagi.

Akan tetapi bukan hanya saya yang antusias menyiapkan langkah berikutnya.

Tetapi tak kalah juga dengan teman saya yang satu ini, yaitu Huzaimi, yang begitu ngeffannya dia kepada Leonel Messi.

Dengan begitu yaqinnya dia berkata, bahwasannya nanti setelah saya keluar dari sini. Saya akan masuk sekolah Bola di Bangkalan.

Agar suatu saat nanti, saya akan menjadi pemain yang hebat, dan bisa bermain satu tim bersama Leonel Messi.

Maka semua teman-teman serentak tertawa. Ada yang berkata, badan kayak ngitu ingin menjadi pemain bola,mana bisa.

Kemudia ada guru olah raga yang masuk kedalam kelas. Memberi kabar gembira, Bahwasannya sebentar lagi ada seleksian  turnamen sepak bola tingkat Kabupaten.

Maka semuanya menyambut dengan penuh gembira.

Akan tetapi yang dipilih hanya satu orang, untuk di jadikan perwakilan sekolah ini. Maka semuanya terdiam dengan seribu pertanyaan, siapa yang layak untuk dipilih.

Akhirnya teman-teman menunjukan tangannya kepada saya. Karna saya sejak kelas 1  sudah hobi bermain bola. Ea udahlah,  bapak guru langsung setuju apa yang ditunjukkan muridnya.

Seleksi

Pada waktu itu saya  masih umur 9 tahun, saya sangat hobi bermain bola. Karna dengan hobiku, saya ikut seleksian ketika ada kompetisi di sekolah dasar.

Lumayan banyak yang ikut seleksian pada waktu itu sekitar 30 orang lebih, tapi alhadulillah. Saya akhirnya terpilih menjadi pemain bola untuk mengikuti perlomba di kabupaten.

Walaupun sudah terpilih menjadi pemain kesebelasan , belom tentu nanti saya ikut bermain, ketika Perlombaan.

Latihan

Akhirnya saya berlatih bersama guru setiap hari Di lapangan bola, yang begitu jauh dari sekolah saya, setelah berselang berapa minggu, tepatnya hari senin perlombaan sebentar lagi dimulai.

Lalu saya sama guru suruh banyak latihan  fisik. Karna itu adalah faktor utama dari sepak bola, kemudian saya setiap pagi dan sore berlari di lapangan bola.

Agar nanti ketika bermain bersama lawannya, biar fisiknya menjadi kuat. Dan supaya tak terlalu capek, klo sudah dilatih terlebih dulu.

Dengan adanya usaha berlatih setiap hari. Hanya untuk persiapan perlombaan nanti di kabupaten, maka saya datang terlebih dahulu di lapangan sebelom pelatihnya datang.

Supaya ini menunjukan kesungguhan saya, dalam mengikuti lomba.

Lomba

Karna saya berasal dari pelosok Desa, maka perjalanan menuju lapangan bola lumayan jauh, sekita 1 jam lebih.

Akan tetapi seluruh kebutuhan sudah di persiapkan, mulai dari stamina, sampai konsumsi. Agar nanti setelah pertandingan bisa makan lagi.

delicious, klo ikut lomba semuanya gratis, makan sepuasnya, dan masih di kasih uang sama Bapak Bupati, ketika bersalaman bersama beliau.

Pertandingan dimulai, saya waktu itu menjadi gelandang bertahan, alhamdulillah. Pertandingan pertama saya bersama teman-teman menang, tapi perjuangan untuk jadi juara masih panjang.

Dan pada akhirnya tim kesebelasan saya masuk semi final, cuman tim saya bertemu dengan tim yang sebelomnya sudah juara, teman-teman mulai kendor untuk bermain.

Cuman saya tetap mensuport teman- teman saya, agar tetap semangat bermainnya, ketika sudah bermain di semi final, tim saya akhirnya kalah 2-1 dengan tim yang tahun kemaren menjadi juara.

Gagal

Walaupun saya gagal untuk meraih juara, akan tetapi saya sama teman-teman sudah membawa nama baik kecamatan saya.

Menurut situs olahraganesia tidak bermasalah walaupun kalah di semi final. Karna sesuatu itu  yang di nilai bukan hasil akhirnya, akan tetap perjuangannya, insyaallah tahun depan masih ada lagi.

Cuman tahun depan kan saya sudah lulus, jadi gac bisa ikut kompetisi lagi. Tapi no bad  buat pengalaman, bisa ikut kompetisi ditingkat kabupaten.

Lalu saya memutuskan untuk melanjuti hobi saya, menjadi pemain bola. Akhirnya saya masuk ke salah satu sekolah bola yang dekat dengan rumah saya.

Walaupun apa yang saya lakukan tidak mendapat restu dari ayah saya. Tetap saya tidak peduli dengan hal itu, karna saya ingin mewujudkan apa yang saya inginkan.

Sekolah Bola

Keinginanku untuk menjadi pemain bola yang terkenal akan segera sirna. Karna ketika saya lulus sekolah dasar.

Saya mulai masuk sekolah bola, yang dilatih oleh seorang pelatih yang juga pengalaman.

Saya mendaftarkan diri saya, dengan membayar uang administrasi sebesar 80.000. Lalu saya mendapatkan jersey club, akhirnya saya berlatih setiap sore, sehabis saya pulang belajar ilmu agama.

Walaupun ayah tidak suka dengan hobiku, akan tetapi saya tetap memaksanya. Agar apa yang saya cita-citakan segera terwujudkan, terkadang saya pulang dari latihan ketika sholat magrib.

Lalu ayah tambah marah, karna kelalaianku dalam beribadah. Kemudian ayah melarangku, suruh jangan main bola lagi, tetapi saya tetap bermain bola.

Kompetisi

Kemudian suatu hari saya membentuk sebuah club kecil-kecilan, yang saya pimpin sendiri, karna ada kabar. Bahwasannya sebentar lagi ada kompetisi anatar kampung.

Kompetisi sebentar lagi akan dimulai, sedangkan club saya gak ada donatornya. Lalu saya minta sumbangan ke teman-teman sebesar, 20.000.

Setelah terkumpul semua uangnya, saya beli jersey club, dan untuk biaya pendaftaran, alhamdulillah cukup.

Lalu di saat saya mengambil undian, club saya bertemu dengan tim yang sangat tangguh. Yang sudah langganan menjadi juara.

Saya tetap percaya diri, bahkan saya berkata kepada teman-teman saya. Jangan pernah menyerah sebelom bertanding, karna bola itu bulat, gak bisa diprediksi dengan akal manusia.

Alhamdulillah, ketika pertandngan dimulai, club saya bisa menahan imbang, club besar tersebut, akhirnya club saya banyak yang mensupotr dan memujinya.

Ternyata di sana ada hikmahnya, bahwasannya usaha itu tidak pernah berhianat, walaupun pada akhirnya club saya gugur di 8 besar.

Terkenal

Berkat kerja kerasku, ingin menjadi pemain bola. Setelah kompetisi selesai, akhirnya orang-orang Desa banyak yang tau kepada saya.

Karna club saya satu-satunya yang bisa mengalahkan club bertahan tersebut.

Walaupun saya bisa seperti itu. Tetapi ayah saya tetap ngga senang melihat anaknya menjadi pemain bola.

Karna yang ayah inginkan dari dulu, ingin melihat saya menjadi penghafal Al Qur’an.

Biar nanti ketika hari kiamat, ayah mempunyai keistimewaan bisa memakai mahkota. Yang dipakai oleh orang-orang penghafal Al Qur’an.

Setinggi apa cita-cita kita, tanpa ada restu dan dukungan dari orang tua, maka semuanya akan sia-sia,

Karna ridho Allah, ada pada ridho orang tua, sedangkan murka Allah,  ada pada murka orang, tua. Oleh karan jangan sia-siakan orang tuamu yang masih ada.

Oleh sebab itu, apabila kamu ingin sukses, maka jangan pernah bosan meminta do’a pada orang tuamu.

Semoga apa yang saya tulis di atas bisa memberikan manfaat, bagi setiap orang yang membacanya.

Sampai jumpa kembali dikarya-karya saya nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *